Pada tahun 2019, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Nadiem Makarim, mengungkapkan bahwa penelitian yang lebih mendalam terhadap situs Gunung Padang perlu dilakukan untuk memastikan kebenaran informasi tentang sejarah dan kebudayaan Indonesia. Situs Gunung Padang, yang terletak di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, telah menjadi perdebatan panjang antara para ahli arkeologi dan sejarah tentang asal usul dan keberadaannya.
Sejak pertama kali ditemukan oleh arkeolog Indonesia, Dr. Danny Hilman Natawidjaja, pada tahun 2011, Gunung Padang telah menarik perhatian dunia internasional sebagai salah satu situs megalitikum terbesar di dunia. Situs ini diyakini memiliki usia lebih dari 10.000 tahun dan dianggap sebagai salah satu peninggalan peradaban kuno yang mungkin jauh lebih maju daripada yang kita ketahui.
Namun, belum ada konsensus yang jelas di kalangan akademisi tentang sejarah sebenarnya dari Gunung Padang. Beberapa ahli percaya bahwa situs ini adalah situs pemakaman kuno, sementara yang lain menganggapnya sebagai bangunan ritual atau astronomi. Oleh karena itu, penelitian yang lebih mendalam dan terstruktur diperlukan untuk memastikan kebenaran informasi tentang Gunung Padang.
Menurut Menbud Nadiem Makarim, penelitian terhadap Gunung Padang harus dilakukan dengan pendekatan ilmiah yang komprehensif dan kolaboratif antara berbagai lembaga dan ahli di bidang arkeologi, sejarah, dan ilmu terkait lainnya. Selain itu, masyarakat juga perlu dilibatkan dalam proses penelitian ini untuk memastikan bahwa informasi yang diperoleh dapat disebarkan dengan baik kepada publik.
Dengan melakukan penelitian yang lebih mendalam terhadap Gunung Padang, diharapkan kita dapat memahami lebih baik asal usul dan perkembangan peradaban kuno di Indonesia. Selain itu, penelitian ini juga dapat menjadi landasan untuk pengembangan pariwisata dan pendidikan di daerah sekitar Gunung Padang, sehingga dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat Indonesia secara keseluruhan.